September 15, 2016

Hukuman untuk Anak yang Edukatif Tanpa Kekerasan

hukuman anak yang edukatif
Share artikel ini

 

Orang tua mana yang tidak marah saat anaknya melakukan kesalahan atau melanggar peraturan? Secara spontan Anda akan marah ketika anak Anda berbuat kesalahan. Saat marah setiap orang tua akan melakukan reaksi yang berbeda mulai dari menasehati, menegur, bahkan hingga memukul.

Sebenarnya tujuan orang tua memberikan hukuman untuk anak adalah agar anak tidak mengulangi kesalahannya lagi. Sayangnya, beberapa orang tua memberikan hukuman yang kurang wajar bagi anak-anaknya sehingga membuatnya menjadi terluka, sakit, trauma, dan bahkan dapat menghilangkan nyawanya.

Nah, sebagai orang tua, bagaimanakah sebaiknya cara menghukum anak yang edikatif, tanpa melakukan kekerasan? Berikut beberapa contoh hukuman untuk anak yang edukatif tanpa kekerasan.

 

1.Tidak Memberikan Hukuman Fisik

Pemerintah Indonesia mempelajari kasus-kasus kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri yang melukai bahkan mengorbankan jiwa anak, maka pemerintah saat ini gencar melakukan gerakan Hindari Kekerasan Pada Anak.

Hal ini dimaksudkan agar orang tua dan orang-orang terdekat anak tidak melakukan tindakan kekerasan yang mengancam keselamatan anak. Setiap anak pasti pernah melakukan kesalahan, namun selama perbuatannya tersebut tidak menimbulkan luka atau membahayakan keselamatan orang lain, sebaiknya sebagai orang tua bisa memahami hal tersebut sehingga tidak perlu memberi hukuman secara berlebihan, apalagi hukumannya berupa hukuman fisik.

Cukup beri nasehat atau peringatan saja sudah cukup, asalkan diberikan secara tegas dan konsisten.

 

2.Menghentikan Kesukaan Si Anak

Setiap anak pasti memiliki kesukaan terhadap suatu hal seperti mainan, hobi, makanan ataupun kebiasaan-kebiasaan lainnya. Nah, saat ia melanggar peraturan maka coba beri hukuman dengan cara menghentikan kesukaan mereka (menonton televisi, bermain game, olahraga atau jalan-jalan).

Jika kesukaannya dihentikan maka ia akan merasa kehilangan. Cara inilah yang membuat ia jera karena tidak ingin kesukaannya dihentikan.

Saat melakukan hukuman tersebut sebaiknya ayah dan ibu memiliki pandangan yang sama sehingga anak tidak memiliki kesempatan untuk lari ke zona dimana mereka merasa nyaman atau terlindungi, karena kedua orang tua memiliki perlakuan yang sama. Saat melakukan hukuman ini pun Anda harus konsekuen sehingga tidak mengubah keputusan karena alasan apapun yang ia sebutkan.

 

3.Hindari Kata Kasar

Ketika orang tua terpancing dengan tindakan anak yang membuat Anda marah, sebaiknya hindari mengucapkan kata-kata kasar karena dapat berdampak buruk baginya ke depannya. Anak Anda dapat melakukan hal yang sama kepada orang lain saat sedang marah (anak melihat, anak melakukan).

Orang tua sebaiknya menggunakan bahasa yang tepat yang membuat anak mengerti akan kesalahannya agar ia tidak mengulanginya lagi. Gunakanlah bahasa anak-anak sehingga ia memahami maksud orang tua. Saat menasehati pun orang tua sebaiknya didukung dengan ekspresi ketegasan dan nada yang tidak terlalu tinggi.

 

4.Alihkan Hukuman dengan Kegiatan yang Positif

Saat memberikan hukuman pada anak, bisa dicoba untuk memberikan hukuman dalam bentuk kegiatan yang positif, seperti membersihkan kamar, menyapu rumah, mencuci piring, merapikan baju, ataupun kegiatan belajar seperti membaca, menulis beberapa lembar tugas sekolah, penambahan jam belajar sampai dengan mengajari adiknya belajar di rumah. Dengan memberikan hukuman yang mendidik tersebut maka mereka akan terhindar anak dari hukuman yang menyebabkan luka, trauma, dan keselamatan jiwa anak.

 

5.Berani Mengakui Kesalahan, Meminta Maaf dan Tidak Mengulanginya Lagi

Saat ia melakukan kesalahan, sebaiknya Anda tidak hanya terfokus pada jenis hukuman yang pantas diberikan padanya saja, namun juga melatih mentalnya agar ia menyadari perbuatannya dan konsekuensi yang harus ditanggungnya. Bagaimana caranya?

Yang perlu dilakukan pertama kali saat anak berbuat salah adalah ajari mereka untuk dapat berani mengakui kesalahannya sehingga ia tidak melempar kesalahan pada orang lain sehingga masalah akan dapat dengan cepat diselesaikan.

Ketika ia sudah berani mengakui kesalahannya, maka selanjutnya ajarkan anak Anda untuk berani meminta maaf pada orang yang sudah disakitinya. Hal ini akan melatih mentalnya untuk memiliki sikap berani bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri.

Setelah mengakui dan meminta maaf, latih juga ia untuk berjanji agar tidak mengulangi perbuatannya lagi dengan tujuan agar ia berpikir dulu sebelum melakukan apapun.


Hukuman pada dasarnya dibuat untuk memberikan efek jera pada seseoarang agar ia tidak mengulangi kesalahannya lagi. Pemberian hukuman pun akan menimbulkan 2 kemungkinan, yaitu seseorang menjadi jera atau justru menjadi kebal terhadap hukuman. Hal ini berhubungan dengan cara penyampain hukuman tersebut.

Jika hukuman diberikan secara tepat maka ia akan menjadi jera, namun sebaliknya jika hukuman diberikan dengan tidak konsekuen dan tidak tegas maka ia akan menjadi kebal atau tidak takut terhadap hukuman.

Bagi para orang tua atau pun pendidik, mulai sekarang carilah cara yang tepat saat memberikan hukuman pada anak atau peserta didik kita, sehingga mereka justru belajar dari hukuman tersebut.

(Visited 943 times, 1 visits today)
Share artikel ini

BERLANGGANAN NEWSLETTERS

Bergabunglah dengan Newsletter kami dan dapatkan tips dan artikel serta penawaran kursus terbaru


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *