November 17, 2015

Bagaimana Membesarkan Anak-Anak Cerdas

Share artikel ini

Memiliki anak cerdas bukanlah perkara mudah. Anak cerdas pastilah memiliki kemampuan yang berbeda dibandingkan anak lainnya.

Contoh, di usia 15 tahun, Moshe Kai Cavalin sudah mendapatkan gelar sarjana di bidang Matematika dari Universitas California Los Angeles. Moshe masuk perguruan tinggi di Amerika Serikat ini saat usianya masih 12 tahun. Sebelumnya, ia masuk ke East Los Angeles Community College saat usianya masih 8 tahun dan ia  lulus dengan gelar diploma dengan Indeks Prestasi (IP) sempurna, yakni 4,0.

Ia berkali-kali ditolak masuk sekolah karena dianggap terlalu pandai sehingga merusak konsentrasi teman lainnya. Untunglah orang tuanya tidak putus asa dan pada akhirnya ia harus menjalani home schooling.

Nah, jika begitu, maka apa yang harus diketahui dan dilakukan orang tua maupun guru untuk membesarkan anak-anak yang cerdas?

1. Tidak ada anak yang memiliki pola belajar yang sama

Orang tua ataupun guru seringkali melupakan hal bahwa tidak ada anak memiliki pola belajar yang sama. Ketika mengajarkan suatu pelajaran, kebanyakan guru atau pun orangtua hanya memikirkan satu cara pengajaran.

Contohnya, ketika belajar mengenai sejarah, maka banyak angka-angka yaitu tahun-tahun penting dalam sejarah dan cerita sejarah yang harus dihafalkan anak. Lalu di rumah pun orang tua membantu belajar dengan menanyai pertanyaan-pertanyaan standar yang ada dalam buku pelajaran.

Hal itu tentu membosankan bagi anak. Itulah sebabnya kita bisa mencoba untuk membantu anak menemukan pola belajar yang berbeda. Misalnya, ketika kita belajar sejarah saat menghadapi ulangan, tuliskanlah sejarah-sejarah atau kejadian-kejadian itu di atas kertas gambar yang lucu dan tempelkan di lemari baju. Kemudian lanjutkan dengan menuliskan kejadian selanjutnya di kertas berbeda lalu tempelkan di kulkas. Dengan cara ini anak akan mengingat informasi dengan cara melihat (visual) dan menghafalnya dengan mudah.

 

2. Kenali dan temukan cara belajar anak

Banyak orang tua seringkali mengharapkan anak-anak untuk belajar dengan cara yang sama seperti mereka lakukan dahulu. Jika hal ini berhasil merupakan suatu keberuntungan. Padahal anak tentunya punya cara sendiri untuk belajar.

Ada tiga cara belajar yang biasa dilakukan yaitu secara visual, audio, dan kinestetik:

  • Metode belajar secara visual

Metode belajar ini menggunakan bantuan visual untuk  memastikan bahwa anak dapat melihat kata-kata yang ditulis. Misalnya, dengan menggunakan gambar saat menjelaskan sesuatu, menggambar garis waktu untuk kejadian sejarah, menulis tugas di papan tulis, menggunakan transparansi overhead/handout, dan menuliskan instruksi.

  • Metode belajar secara auditori

Metode belajar ini termasuk mengulangi kata-kata sulit, bergabung dalam kelompok diskusi, mendengarkan pelajaran melalui audio, menulis laporan lisan, dan mendorong interpretasi oral.

  • Metode belajar secara kinestetik

Metode belajar ini mencakup kegiatan (praktikum, percobaan, dll), menempatkan proyek, saat istirahat melakukan gerakan, menggunakan alat bantu visual, dan benda-benda dalam pelajaran, bermain peran, dan kunjungan ke lapangan.

3. Bangkitkan Rasa Percaya Diri Anak

Sebagai orangtua harus belajar untuk membangkitkan rasa percaya diri pada anak sehingga mereka tidak melihat aktivitas belajar sebagai momok yang menakutkan. Berikan banyak pujian pada anak sehingga anak dengan bebas mengeluarkan semua yang mereka miliki dengan rasa bangga.

Kalau seorang anak belajar dengan wajah terangkat dan percaya diri, dadanya akan membusung sehingga lebih banyak oksigen yang masuk ke tubuhnya. Jika kandungan oksigen dalam tubuh terutama otak cukup, maka akan memperbesar daya kerja otak sehingga otak lebih aktif bekerja mengolah informasi yang diterimanya.

4. Biasakan Anak Membaca

Sir_Richard_Steele“Membaca bagi pikiran adalah semacam latihan bagi tubuh” demikian kata-kata bijak penulis esai dan dramawan Irlandia,  Sir Richard Steele (1672- 1729).

Memang dapat dikatakan membaca adalah latihan mental bagi pikiran. Pikiran manusia itu terutama anak seperti magnet, selalu menarik segala sesuatu yang mendominasi pikiran. Jadi dengan membaca buku gambar, perhitungan, atau  buku dengan aktivitas seperti teka-teki dan kuis, dan semacamnya akan mengajari banyak hal seperti mengingkatkan daya ingatan dan imajinasi si anak dan juga , tetapi juga mempengaruhi pikiran kita seperti memperhatikan detil.

Pikiran kita akan dipenuhi ole ide-ide yang penuh kekuatan kreatif dan positif. Lantas, berapa lama membaca dalam sehari? Minimal 15 menit saja sudah cukup untuk mendapatkan hasil yang luar biasa.

5. Berikan Dukungan Terus Menerus

Anak cerdas pastilah memiliki kemampuan di atas rata-rata dibandingkan teman lainnya. Bisa jadi ia justru minder karena berbeda. Itulah sebabnya orangtua perlu mendukung prestasinya.

Prestasi yang diraih seseorang tidak hanya karena kemampuan individual. Berbagai prestasi dalam berbagai bidang kehidupan dicapai karena hasil kerja dan gagasan bersama, secara langsung maupun tidak langsung.

Kesuksesan Neil Amstrong sebagai manusia pertama yang sampai di bulan tidak lepas dari campur tangan dan dukungan banyak orang. Perubahan besar dalam sejarah merupakan perubahan yang digerakkan oleh banyak orang dalam suatu gagasan dan sikap yang berbeda dari sebelumnya.

Intinya, jalan untuk meraih dan menjaga kesuksesan hidup adalah dengan selalu melibatkan dukungan orang lain. Jadi, dukunglah selalu anak untuk menghadapi kesulitan dan permasalahannya. Jika perlu ajaklah semua pihak, misalnya guru sekolah, guru ekstrakulikuler, bahkan kepala sekolah agar dapat bersama kita mendukung anak-anak cerdas.

(Visited 568 times, 1 visits today)
Share artikel ini

BERLANGGANAN NEWSLETTERS

Bergabunglah dengan Newsletter kami dan dapatkan tips dan artikel serta penawaran kursus terbaru


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *